Budaya Membaca Orang Indonesia Memprihatinkan!

Artikel ini mungkin lebih kearah curhatan. Boleh skip atau ke artikel lainnnya di blog ini.

Pada awalnya, saya sudah sering melihat postingan, membaca tulisan bahwasanya orang Indonesia itu malas baca.

Bahkan menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Ketika membaca tulisan seperti itu, bagi saya pribadi itu adalah informasi. Just information.

Namun informasi tersebut belakangan ini saya rasakan sendiri.

Berarti bukan informasi saja, tapi pengalaman.

Ya, ini berubah menjadi pengalaman menghadapi orang Indonesia yang tidak doyan membaca itu.

 

Ketika berkomunikasi dan berada di lingkungan akademisi, hal seperti ini ya jarang ditemui, kurang terasa pengalamannya. Ya namanya dunia akademisi, ya membaca penting, dan menjadi kewajiban malahan.

Tetapi ketika terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat yang punya berbagai macam latar belakang, data tersebut rasanya valid deh.

 

Misalnya pengalaman saya di blog ini, yang sedang Anda baca saat ini.

Ada artikel dimana saya membagikan views tiktok dan instagram secara gratis. Tentu karena diproses secara manual, jadi ada batasannya.

Saya buat rules sederhana sekali.

  • Salin link videonya, dan paste di kolom komentar. Nanti saya acc.
  • 1 Orang = 1 link per hari. Jangan greedy, supaya yang lain ikut kedapatan bagian.

Lalu apa yang terjadi?

  • 1 orang yang sama submit berkali-kali (kan tiap komentar ada emailnya, tetap terbaca data pengirimnya toh…)
  • ada yang mengirim link contoh, link profilenya (hadeh..)
  • ada yang berkomentar di contoh link, jadi dia buka “contoh link” tersebut dan komen di akun tersebut….
  • dan parahnya, artikel tentang membagikan views tiktok, di komentari link IG….

Bikin gemes ya?

Rasanya saya nulis petunjuknya pakai bahasa Indonesia, bahasa yang diakui secara resmi di negeri ini. Bukan bahasa Inggris yang kita tahu tidak semua orang paham.

Kurang jelas apa sih? Semalas itukah membaca?

 

Di case lain, saya jualan jasa.

Calon pembeli ini menayakan harga, lalu saya balas foto-foto yang isinya list harga dalam bentuk tabel biar jelas dan mudah dibaca.

Lalu dia balas,

“berapa harganya?”

Itu yang saya kirim emangnya apaan??

 

Belum lagi istilah yang umum pun banyak yang kurang mengerti.

Misalnya dia memilih layanan mancanegara. Dia tanya apa artinya, dengan baik hati kita screenshot KBBI.

Dia deal, lalu kita proses.

Setelah masuk, dia bertanya, “kok orang luar negeri semua?”

 

Yah begitulah realita lapangan.

Maka jangan heran peminat dari buku-buku jumlah nya memang sedikit.

Isi kolom komentar beda dengan isi postingan.

Orang lebih suka video, dari pada tulisan.

Lebih suka di “dongengin” ketimbang membaca tulisannya….

 

Termasuk dunia blog yang penuh tulisan….

Peminat pembacanya semakin sedikit, apalagi tren video yang makin populer di youtube, reels, yours, dan TikTok.

Bintang berapa nih buat penjelasan diatas? 😍

Pubiway.com memang jauh dari sempurna.

Marilah kita sempurnakan bersama-sama 🙏 Masukan Anda buat artikel ini?

Tinggalkan komentar