Dampak Negatif Dari Media Sosial Hari Ini

Dampak Negatif Media Sosial Hari Ini

Diperbaharui

Hai! Hari ini saya mau bercerita tentang dampak negatif media sosial berdasarkan yang saya baca dan alami sendiri.

Di dunia kita yang serba teknologi dan digital ini, kita menjadi terikat dengan media sosial.

Mulai dari :

  • Facebook yang sudah mulai ditinggalkan anak remaja dan diisi oleh bapak-bapak dan emak-emak gaul
  • Twitter sebagai tempat ngetweet  yang hanya bisa 280 karakter, atau dibuat bersambung (kultwit)
  • Tiktok yang banyak dipakai untuk buat joget-joget dengan musik yang “sengaja” asyik di dengar apalagi buat generasi Y dan Z
  • Youtube yang tidak lama lagi akan mengganti peran TV dan pusat informasi video
  • Instagram buat update di feed, video durasi pendek di insta story sampai bertitik-titik
  • Quora tempat kita bertanya macam-macam dan menjawab pertanyaan yang macam-macam pula
  • Dan banyak lagi medsos-medsos lainnya…

So, kita mulai dari mana?

Oh iya buat disclaimer dulu. Saya sedang tidak berlomba-lomba membuat sebanyak-banyaknya angka agar menarik mata, seperti 99 dampak negatif media sosial, nomor 69 paling berbahaya…

Yang ketika dibaca, poinnya ya itu-itu saja, cuma bahasanya diputar-putar biar dikira banyak, agar bisa memasukkan banyak kata kunci, dan meningkatkan CTR di halaman 1 pencarian google.

 

Agar kita bisa menyamakan posisi kita dalam melihat, ada baiknya kita bahas hal penting ini dulu.

Pertama, media sosial itu bersifat netral.

Dia tidak baik, dan tidak buruk. Sifatnya netral. Ketika digunakanlah baru label nya berubah.

Misalnya nih :

Pisau itu benda netral. Ketika dipakai seorang p*mb*nuh, dia menjadi benda yang berbahaya.

Sebaliknya ketika dipakai seorang koki, dia bisa membuat makanan terpotong rapi yang siap disajikan dihadapan anda.

Bisa membawa manfaat yang positif, dan dampak buruk yang negatif, tergantung cara kita memakainya.

Jadi kita tidak hanya memakai medsos dengan hati, tapi dengan 2 hati yaitu hati-hati.

 

Kedua, Medsos tetap akan ada meskipun kita tidak menyukainya.

Setelah media sosial ditemukan di era perkembangan internet, ia tidak akan bisa dikubur lagi.

Suatu medsos tidak akan abadi, ketika dia mati, akan ada medsos lain yang menggantikannya.

Dulu Friendster begitu berkuasa, tapi ketika dia sudah mati, tahta itu diambil facebook hingga saat ini.

Jadi medsos akan tetap ada, dan berevoluasi ke berbagai bentuk yang tentunya membawa banyak manfaat buat kehidupan manusia di dunia yang menuju serba digital.

Jadi kita tidak bisa menolaknya, dia akan tetap ada dikehidupan kita. So, kitalah harus belajar untuk tahu cara mengendalikannya.

 

Nah, sekarang kita masuk ke pembahasan apa saja dampak negatif dari sosial media.

Tentu suatu dampak negatif tidak akan berlaku untuk semua tingkatan umur. Beda dampaknya bagi anak kecil, bagi remaja, dan bagi orang dewasa.

Suatu dampak negatif akan melahirkan dampak-dampak negatif lainnya, karena itu yang kita sebut dalam sub judul adalah yang pokoknya, dan dalam penjelasannya kita paparkan juga dampak turunannya.

Agar artikel ini lebih enak dibaca dan dilihat mata, kita buat dalam bentuk listicle ya.

Dampak Negatif dari Media Sosial

1. Membuang Banyak Waktu yang Berharga

Bermedsos Banyak Membuang Waktu

Berapa lama waktu yang anda habiskan untuk bermedia-sosial? Seberapa berharga waktu bagi anda?

10 menit perhari? 30 menit? 1 jam? 2 jam? 5 jam? atau 7 jam?

 

Hm… mungkin cara ini kurang menarik, bagaimana kalau sedikit didramatisasi agar kita tahu betapa berharganya sang waktu.

Tuhan yang Maha Adil itu sudah menetapkan setiap manusia punya jatah 24 jam sehari.

Siapapun anda, baik presiden ataupun gelandangan di pinggir jalan, semua diberi waktu yang sama yakni 24 jam.

 

24 jam = 1.440 menit = 86.400 detik.

Kita mengenal istilah time is money.

Kita konversi 1 detik senilai Rp 10.

Jadi tiap hari kita punya jatah Rp 864.000.

 

Uang segitu banyak mau dipakai buat apa saja? Bermedsos?

1 jam anda bermedsos, anda sudah menukar Rp 36.000

3 jam, anda sudah memakai Rp 108.000

6 jam sehari, anda sudah mengahabiskan Rp 216.000

 

Lalu berapa lama waktu yang anda pakai untuk :

  • Berdoa, beribadah, membaca kitab suci, bersyukur, curhat, me time kepada sang pencipta?
  • Membaca buku pelajaran, buku pengetahuan untuk memperluas ilmu dalam kehidupan?
  • Berolahraga minimal jogging, push up, sit up, lompat tali untuk menjaga kesehatan tubuh jasmani anda?
  • Ngobrol, bersenda gurau, menjalin kedekatan bersama sang buah hati atau kepada kekasih, atau kepada orang yang anda cintai dalam hidup anda?
  • Mencari rezeki, mempelajari hal finansial, demi kehidupan yang sentosa bagi diri sendiri dan keluarga anda?

Waktu anda paling banyak habis buat apa? Yang benar-benar berguna dan bermanfaat bagi sekitar anda saat ini dan dunia akhirat kah?

 

Mari kita berpikir sejenak,

mengapa medsos seolah-olah punya magnet sehingga kita banyak menghabiskan waktu bersamanya?

Apa yang sedang terjadi sebenarnya?

Anda melihat konten yang manarik perhatian, setelah melihat/membaca/menonton 1 post, muncul post lain yang relavan yang tak kalah menariknya. Anda terus scrool beranda hingga lupa waktu.

 

Untuk melihat lebih luas apa yang sedang terjadi, mari kita pakai kacamata berbagai sudut. Kita bagi 3 kacamata :

  • Kacamata pengguna biasa/penikmat konten
  • Kacamata pembuat konten/content creator/influencer
  • Kacamata penyedia flatform media sosial

Dengan kacamata pengguna biasa, kita sudah tahu bagaimana rasanya.

 

Sekarang dari kacamata pembuat konten.

Pertanyaan pembuka, apakah menurut anda seseorang seperti Atta Hallintar konsisten upload video hampir dan mungkin setiap hari di youtube tanpa benefit apapun yang akan dia dapatkan?

Ya, anda mungkin sudah tahu, mereka mengejar uang melalui iklan adsense yang muncul dalam videonya. Semakin banyak views, semakin banyak uang yang ia dapatkan. Dapat poinnya?

 

Jadi seorang content creator akan berusaha membuat konten yang “menarik” agar banyak orang yang menontonnya, dan terus menonton konten-konten lainnya. Begitu juga di medsos lain seperti instagram, tiktok, dan lainnya.

Karena semakin banyak interaksi seperti like, share, comment, maka videonya semakin banyak ditonton karena direkomendasikan algoritma youtube, dan semakin banyak pula dollar ke adsensenya.

1 info lagi deh, mengapa content creator selalu berusaha membuat video diatas 10 menit? Karena semakin banyak iklan yang bisa disisipkan 🙂

Itu baru soal youtube.

 

Instagram dan tiktok bagaimana? Berbeda lagi algoritmanya. Tapi pada dasarnya semakin tinggi engagement, maka semakin mahal dan banyak pengiklan yang mau pasang paid promote/endorse di akunnya.

FYI, dilansir dari bola.com, akun instagram Christiano Ronaldo tarif endorsenya senilai 780 ribu pounds atau Rp 13.600.000.000 per postingan. Pantesan pendapatan dari instagram lebih besar dari gajinya sebagai pemain bola di Juventus.

 

Dari Kacamata Penyedia Flatform Media Sosial?

Kalau anda punya flatform medsos apa yang anda inginkan? Contoh flatform itu seperti facebook, twitter, instagram, tiktok, youtube, dll.

Sebagai catatan, anda tidak mengutip iuran/biaya kepada para pengguna, alias orang bisa pakai secara gratis. Sebaliknya anda harus membayar biaya operasional, pengembangan, bayar gaji pegawai, pajak, dan banyak lagi.

Tentu saja anda ingin user-user gratisan itu menghasilkan uang bagi anda. Caranya? salah satunya melalui iklan/ads.

Lalu bagaimana cara agar banyak orang mau memasang iklan di flatfrom anda?

Jawabannya akan sangat panjang.

Singkatnya : semakin lama user “nongkrong” di flatform anda, maka semakin besar kemungkinan mereka mengklik iklan yang ditayangkan disana.

Btw, kita belum membahas mengapa iklan itu sering match/cocok dengan keinginan anda ya…..

 

Sebenarnya masih banyak lagi sisi gelap dari dunia media sosial ini, yang mungkin membuat anda merasa “ngeri“… dan itu kita buka di poin-poin berikutnya.

Saya sangat merekomendasikan anda untuk mengetahui lebih jauh dark side media sosial dengan menonton film dokumenter di netflix yang berjudul The Social Dillema. Meskipun berbahasa Inggris, anda tidak perlu takut karena ada subtitle bahasa Indonesia di Netflix nya.

 

Jangan-jangan setelah menonton, anda akan berpikir untuk menghapus semua akun media sosial anda….

 

2. “Katanya Gratis” Padahal Dibayar Mahal dengan Privasi Kita

Gratis dibayar Privasi

Suka sesuatu yang berlabel gratis? Tentu dong! Sepertinya hampir semua orang itu suka benda gratisan.

Tapi apakah ada yang benar-benar gratis secara konsisten tanpa membayar dalam bentuk lain?

Hm…

Mari kita mulai dari bentuk yang paling sederhana, yang saat ini sedang anda lakukan.

Anda membaca blog ini secara gratis bukan? Tidak ada biaya berlangganan untuk menikmatinya.

Apakah anda menganggapnya benar-benar gratis?

Atau saya bisa menyediakannya secara gratis pula kepada anda?

Gan/sis untuk membuat blog ini perlu bayar domain (pubiway.com) ratusan ribu tiap tahunnya, server hosting seharga puluhan ribu tiap bulannya, belum lagi theme, plugin dan optimasi SEO agar bisa dibaca orang lain ketika dicari di mesin pencarian google, waktu mencari ide dan mengetiknya, biaya langganan indihome untuk berinternet, kopi dan susu untuk menemani…. semua itu tidak gratis sobat…..

Lalu bagaimana caranya agar minimal saya balik modal?

Iklan.

Jadi saya mendapatkan sejumlah bayaran dari adsense dari setiap pengunjung yang melihat dan membuka iklan tersebut… begitulah salah satu cara bekerjanya dunia per-blog-an…..

 

So, bagaimana dengan media sosial?

Kita ambil contohnya pertama bernama Youtube.

Bagi anda yang menonton youtube hampir disetiap nonton video muncul iklan dulu diawal yang sejujurnya annoying…Tapi kita paksa lihat demi bisa menikmati konten secara gratis kan? Soalnya ada jenis iklan yang tidak bisa di skip.

 

Bisa juga kita membuatnya bebas iklan dengan cara berlanggananan Youtube Premium, tapi ya sudah keluar biaya.

Namun apakah cuma itu saja bayarannya? Tentu tidak.

 

Coba deh kamu buka akun youtube baru (register akun baru), terus tonton 1 jenis video saja yang sesuai dengan hobi kamu. Misalnya sepakbola. Jadi kamu tonton semua pembahasan sepakbola.

Coba kamu kembali lagi besok hari, dan apa yang muncul di beranda kamu.

Video bola semua…..

Itulah algoritmanya.

 

Itu fungsinya apa? Agar video yang menarik minat kamu terus dimunculkan, yang akhirnya semakin lama kamu berada disana.

Bayangkan jikalau kamu buka video memasak nasi goreng, terus video yang muncul setelahnya itu otomotif, tips seo dalam ngeblog, cara install OS Windows… pasti kamu enggan berlama-lama dan menutup aplikasinya.

 

Kita masuk ke contoh kedua, facebook.

Apa yang kamu klik, postingan atau halaman yang diberi like/reaction, komentar, video yang tonton, kamu cari, itu semua dicatat di server mereka.

Buat apa? Untuk menggambarkan “siapa sebenarnya anda“. Karena siapa kita sesungguhnya adalah apa yang selalu kita kerjakan. Mesin canggih facebook akan membuat gambaran “profile” anda.

Dengan data-data tersebut, mereka akan tahu post seperti apa yang anda suka, dan menjauhkan yang tidak anda senangi.

 

Dengan demikian mereka bisa mengetahui iklan seperti apa yang cocok disajikan kepada anda.

Iklannya benar-benar tertarget seperti keinginan anda.

Oleh sebab itu jangan heran jikalau anda mencari sepatu gunung baik di smartphone ataupun mesin pencari, tiba-tiba ketika anda asyik ngescrool muncul iklan sepatu gunung.

Dia tahu darimana bos?

Yap karena dia memantau tindakan anda di media sosial dan smartphone anda….

BTW, kalau anda lama tidak buka medsos, lalu muncul notifikasi yang “sangat menarik”,  tanya kenapa, kok bisa begitu?…..

 

Tapi sekali lagi, poin ini tidak akan dianggap negatif jika anda masih menganggap harga privasi anda itu murah.

 

Oh iya, ada quote menarik dari film dokumenter The Social Dilemma

If yo’re not paying for the product, then you are the product

Artinya, jika kamu tidak membayar untuk (menikmati) suatu produk, maka (sebenarnya) andalah produknya.

 

Masih bingung kenapa kita yang jadi produknya? Tonton penjelasan dari video ini aja deh, semoga mudah buat dipahami.

Tertarik jadi produk?

 

3. Menggangu Kesehatan Mental

Terganggunya Kesehatan Mental

Pernah merasa insecure?

FYI, insecure adalah istilah baru yang populer di generasi millenial yang berarti menggambarkan perasaan tidak aman yang membuat seseorang merasa gelisah, takut, malu, dan rasa tidak pede.

Apakah anda pernah ikut merasakan salah satunya?

  • Lihat teman sudah sukses di pekerjaannya, kamu belum menjadi apa-apa
  • Lihat orang lain beli mobil kayak lagi beli indomie, sedangkan motor pun masih belum lunas kreditnya
  • Lihat tetangga jalan-jalan sampai ke Disneyland, sedangkan kamu dirumah saja
  • Lihat orang lain dandan lebih cantik, tas lebih mewah, sepatu branded, nongkrong di starbuck….

 

Anda pengen ikut diakui juga?

Mulailah menebar kepalsuan…

Mobil baru padahal minjam, tas mahal padahal siap foto langsung di jual lagi, dan banyak lagi kepalsuan-kepalsuan di media sosial.

Mau lebih ekstrim? Foto-foto naik jet pribadi, padahal cuma sewa buat foto.

 

Intinya banyak kepalsuan disana, yang ditampilkan sisi yang indah dan bagus saja, belum lagi jadi tempat ajang pamer….

 

Sebenarnya ada tips buat menghadapi dampak negatif ini, yakni memegang prinsip:

Media sosial hanyalah tempat just for fun, bukan realita kehidupan. Tiap orang hanya menampilkan sisi bulan yang terlihat indah, dan menyembunyikan sisi gelap lainnnya yang penuh lubang.

Jadi jangan dibawa ke dalam hati apalagi sampai baper ya…

 

4. Jejak Digital Yang Buruk

Dunia Digital Meninggalkan Jejak

Bila kita berjalan di atas pasir tepi pantai, akan tercetak jejak-jejak kaki yang sudah kita lewati.

Dan ombak akan menyapu pasir dan menghilangkannya dengan indah.

 

Media sosial?

Haduh…..

Jejak negatif berpeluang menjatuhkan anda. Misalnya ketika anda melamar pekerjaan, bagian HRD mengecek aktifitas anda di akun medsos… dan ditemukan banyak hal yang mungkin anda pun menyesalinya di kemudian hari…

 

Masih mending ada yang bisa dihapus, yang sudah terlanjur tersebar dan tidak bisa di remove bagaimana?

Bagian terburuk? Kita lupa password akunnya, jadi kita tidak bisa menghapus konten tersebut….

 

Belakangan ini saya juga melihat beberapa teman sekelas saya saat sekolah dulu sudah menghapus akun facebook mereka, dan hanya menampilkan medsos yang sudah mereka filter saja.

Silahkan juga membaca artikel yang dipublikasikan web pemerintah yang berjudul “Internet Adalah Dunia Permanen, Tidak Ada Hal Yang Kita Hapus Benar-benar Hilang. Semuanya Akan Meninggalkan Jejak Digital. Selamat Merenungi, Mari Menjadi Warganet Yang Bijak Dan Smart.

Peringatan dari Badan Siber dan Sandi Negara

 

5. Menjauhkan yang Dekat

Dekat tapi Tak Merasa Dekat

Yang jauh jadi dekat, yang ada di dekat kita jadi jauh.

Seberapa sering kamu memperhatikan alam di sekitarmu sejak aktif menjadi pecandu media sosial?

Seberapa sering kamu tidak mengobrol langsung dengan orang disekitarmu, tapi justru aktif berkomunikasi dengan orang yang jauh diluar sana?

 

Rasa candu sudah menyita waktu, kini orang-orang terdekat juga harus menerima dampaknya.

Kita memang tetap berkomunikasi di media sosial, melalui chat, komentar, memberi likes, dan semacamnya.

Tapi semenurun apa kita berkomunikasi secara verbal, mata ketemu mata, telinga mendengar tinggi rendahnya nada, ekspresi berbicara, body language, dan merasakan “feel” kala berbicara langsung?

 

Atau seberapa sering kita ngobrol lebih suka pakai teks ketimbang pakai mulut yang sudah diberikan Tuhan pada kita?

Inikah kehidupan manusia yang kita damba-dambakan itu?

 

Media sosial sudah menyita waktu, membayarnya dengan privasi, mengganggu kesehatan mental, punya jejak digital yang buruk, dan menjauhkan dari hal-hal disekitar kita. Inikah yang kita cita-citakan?

 

Oke, sampai disitu saja kita kupas dampak negatif yang dihasilkan media sosial. Lantas bagaimana dengan dampak positifnya? Sepadan kah?

 

Dampak Positif dari Media Sosial

1. Mempertemukan Kembali Teman Lama

Bertemu Teman Lama Berkat Media-Sosial

Saya punya seorang teman saat kelas 1 SD. Sudah lama sekali. Saya hanya mengingat first name nya saja, dan namanya itu nama yang banyak digunakan orang alias nama umum.

Bertahun-tahun saya mencari nya di media sosial, dan di tahun 2020 lah baru saya ketemu. Dapatnya dari Facebook, dan akhirnya ketemu juga instagram dan medsos-medsos lainnya.

Medsos sudah mempertemukan saya dengan teman lama. Dan saya yakin bapak-bapak dan emak-emak penghuni medsos terutama facebook juga merasakan hal yang sama.

Positif? Yap!

 

2. Ladang Uang

Medsos Menghasilkan Uang

Tidak sedikit orang yang mengais rezeki dari hadirnya media sosial.

Ada yang berjualan langsung, membangun personal branding, membuat “kolam ikan“, dan tempat pemasaran yang bagus berkat adanya Facebook Ads dan Instagram Ads.

Para infuencer ataupun micro influencer bisa mendapat uang dari hasil endorse suatu produk di akunnya.

Begitu juga dengan youtuber yang kini menjadi cita-cita anak kecil.

 

Saya sendiri juga mengenal uang dari media sosial, dan karenanyalah saya bisa mendapat sejumlah uang untuk membiayai kuliah saya tanpa perlu meminta-minta pada orang tua.

Kedepannya akan banyak juga orang-orang yang akan memanfaatkan flatform media sosial untuk menggali pundi-pundi rupiah, karena semakin banyak orang berkumpul disana, semakin banyak pula target pasarnya.

 

3. Komunikasi yang Cepat dan Luas

Dunia Terkoneksi

Selain teknologi komunikasi yang bisa menghubungi orang lain di belahan bumi manapun dengan biaya ringan karena internet, medsos juga melakukan hal yang serupa.

Anda misalnya saat ini sedang di daerah terpencil di Sumatera, mengupload foto di media sosial instagram, dan foto tersebut langsung bisa dilihat orang lain di pelosok bumi manapun selama punya koneksi internet. Tidak hanya di bumi, yang sedang di stasiun luar angkasa juga bisa “stalking” akun anda tadi (bila tidak ada kerjaan).

 

Selain kecepatan dalam komunikasi dalam hitungan detik, luasnya pertemanan juga bertambah berkali-kali lipat.

Sebelum mengenal internet, mungkin teman bermain kita hanyalah tetangga dan teman 1 sekolah.

Sekarang? Anda bisa punya teman dari belahan dunia manapun, misalnya Kazakhstan.

 

Bergabunglah dengan komunitas global, dan anda akan punya banyak teman dari berbagai negara di dunia ini.

Dunia benar-benar menjadi saling terkoneksi berkat hadirnya media sosial.

 

4. Nilai Edukatif Secara Gratis

Dapat Ilmu Secara Gratis

Banyak nilai edukasi yang bisa didapatkan dari media sosial asalkan anda tahu caranya.

Saya sendiri belajar membuat blog, mengenal kode pemograman PHP, SEO, dan lainnya itu kebanyakan dari grup facebook.

Sampai saat ini saya main facebook hanya karena fitur grup.  Kalau update status, foto, album dan semacamnya sudah lama saya tinggalkan.

 

Sekarang ini saya banyak belajar ilmu mengelola finansial, copywriting, dan lainnya dari akun-akun instagram yang memiliki niche tersebut.

Mengamati keindahan editing video dan gerak geriknya dari tiktok, membaca jawaban dari pertanyaan langka di quora, dan banyak lagi.

 

Intinya, kalau mau dapat nilai edukasi, follow dan subcribe lah akun-akun yang konsisten berbagi konten edukatif. Algoritma akan membantu anda menemukan akun-akun sejenis.

 

5. Menggalang Aksi Kemanusiaan

Menggalang Nilai Kemanusiaan

Sisi manusia tidak benar-benar hilang ketika kita menggunakan media sosial. Banyak orang-orang yang membutuhkan bantuan yang kemudian diviralkan para netizen, yang berakhir dengan banyaknya bantuan kepada orang tersebut.

Meskipun empati kita “terasa menurun” tapi dengan media sosial, kita bisa membawa nilai positif bagi kemanusiaan.

 

Lihat Juga :  Lupa Email FB tapi Ingat Password? Ini Solusinya!

 

Positif vs Negatif, Anda yang Mana?

Kita sudah memaparkan dampak postif dan negatif dari hadirnya media-sosial dalam kehidupan.

Berkesimpulan untuk meninggalkan media sosial tentunya mengorbankan banyak dampak positif yang ada.

Berkesimpulan untuk aktif bermain media sosial juga bukan pilihan yang bijaksana karena dampak negatif berantai yang siap mengintai.

 

Buat kamu yang belum punya jawaban, layak banget buat mencoba puasa media sosial, atau berhenti dari hingar bingar dunia medsos sejenak. Berikut video yang boleh banget kamu dengar penjelasannya :

 

On Marissa’s Mind: Puasa Media Sosial

Video yang dirilis 12 Mei 2019 ini akan menceritakan pengalaman Kak Marissa dalam menjalankan “Puasa Media Sosial” dan hal-hal yang diperoleh setelah menjalankannya.

Hidup Tanpa Social Media dan Bahagia

Video dari Ferry Irwandi yang dirilis Februari 2021 ini akan menceritakan hal-hal yang dia dapatkan ketika melawan rasa kecanduan beratnya terhadap dunia social media yang dijalani belasan tahun, serta dampak positif yang dirasakan setelahnya.

 

Oh iya, dari tadi kita sudah membahas sisi negatif dan positif serta rekomendasi beberapa video untuk merasakan lebih dalam sensasinya, bagaimana kalau kita tambahkan tips-tips bermedia sosial?

Boleh ya? Oke?

Tips Bermain Media Sosial Versi Pubiway

Tips Menggunakan Media Sosial Versi Pubiway.com

#1. Pilih Akun yang Ingin Anda Ikuti

Kalau ingin berpikiran positif, maka follow lah akun-akun yang memang positif. Jauhi akun toxic.

Berdaulatlah ketika bermedsos, jangan jadi anda yang dipermainkan sama medsos.

“How to” nya seperti apa?

Contoh :

Di Instagram anda ingin mendapatkan ilmu literasi keuangan yang dikemas dalam bentuk visual yang menarik, maka follow akun-akun yang membagikan ilmu finansial. Jangan tergoda untuk memfollow akun gossip.

Dengan demikian feed instagram dan eksplorer anda hanya berisikan akun-akun yang relavan.

Bila anda memang tidak bisa lepas dari teman-teman, buat 2 akun yang berbeda.

Yang satu khusus memfollow dan berkomunikasi dengan teman sekelas, rekan kerja dan keluarga. Yang satu lagi khusus untuk tujuan anda. Jangan dicampur-campur.

 

Di tiktok, misalnya seperti saya yang hanya mau follow literasi keuangan dan bisnis serta editing video yang indah. Maka ketika di tab FYP kalau ada cewek joget-joget ga jelas meskipun viral akan saya swipe kebawah, pokoknya akun ini jangan terkontaminasi tiktok joget-joget ga jelas.

Saya sendiri menginstall 2 aplikasi tiktok, yakni tiktok dan tiktok lite. Tentu tiap akun punya tujuannya. Yang satu untuk eksperimen semua fitur tiktok seperti autofollow, auto views dan eksperimen lainnya. Yang satu lagi fokus untuk akun yang saya inginkan.

 

Di youtube?

Cukup sesekali saja melihat tab trending youtube. Hanya subcribe yang masuk daftar channel youtube terbaik sesuai kebutuhan. Rasa candu di youtube memang lebih besar, terlebih jika punya kuota tanpa batas.

 

#2. Manfaatkan Semua Sisi Positif Media Sosial

Jika anda ingin berbisnis, maka pakailah media sosial untuk berbisnis.

Jika ingin membangun personal branding, maka lakukanlah hal-hal yang mendukung personal branding anda.

Intinya fokus pada tujuan, dan eksplorasi sisi yang menguntungkan anda saja. Jauhi distraksi yang menghambat apalagi yang berpeluang menjatuhkan.

 

#3. Anggap Media Sosial Sebagai Etalase Toko

Pernah pergi belanja atau sekadar jalan-jalan ke mall?

Yang ditampilkan yang di muka/di depan itu yang seperti apa? Tentu yang paling baik dan baik-baiknya saja bukan?

Begitulah media sosial. Jangan tertipu bahwa kehidupan nyatanya di tampilkan semua. Tidak ada yang semuanya indah, semuanya keren, tidak ada yang sesempurna itu hidupnya.

Ingat media sosial hanya tempat untuk just for fun, jangan baper dan berpikir bahwa itulah yang kenyataan yang sesungguhnya, apalagi membandingkan dengan hidupmu.

 

#4. Cermat Membaca Komentar

Banyak komentar negatif yang ditulis para netizen yang merasa maha benar itu. Setiap orang merasa punya hak berbicara dan berkomentar tanpa memikirkan dampak dari komentarnya, baik untuk dia dan orang yang dikomentari.

So, saya sendiri menyarankan anda untuk membaca komentar di tempat yang tepat saja.

Misalnya kalau post tentang tutorial, cocok banget baca komentar siapa tahu ada tips atau langkah yang sulit dipahami, atau ada trik lain yang juga sama bagusnya.

Tapi kalau kolom komentar postingan “siapa pemain sepabola terbaik, Messi atau Cristiano Ronaldo?” Sudahlah, abaikan saja. Saling maki, saling hujat, saling merasa paling benar, ada disana. Yang begituan tidak perlu dibaca.

 

#5. Batasi Waktu Penggunaan Aplikasi

Jika kamu menggunakan media sosial dengan smartphone, saya sangat merekomendasikan anda untuk menginstall aplikasi bernama Your Hour. Tersedia secara gratis di playstore.

Aplikasi ini akan menampilkan timer kecil yang akan berubah warna dan memberi notifikasi ketika anda sudah terlalu lama membuka apps medsos.

Aplikasi Your Hour Memiliki Timer

Lihat Juga :  Ternyata Seperti ini Cara Nonaktifkan Akun Instagram!

Kesimpulan

Semoga pembahasan kita tentang efek positif & negatif dari social media ini dapat memberi pencerahan kepada kita.

Ingat, kitalah yang memanfaatkan medsos, jangan sampai medsos yang memanfaatkan kita.

Apabila kamu punya tips lain yang juga efektif, bagikan di kolom komentar di bawah ya.
Terimakasih.

Gambar Gravatar
Berbagi adalah sebuah kebahagian dalam kehidupan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *