Kenapa Mudah Termakan Hoax?

Diperbaharui

Kenapa banyak orang-orang di Indonesia mudah termakan hoax? Lantas apa solusi agar hoax bisa diatasi?


Mudah Termakan Hoax – Seberapa sering orang-orang di sekelilingmu termakan berita hoax?

Apakah kamu sendiri sering mengalaminya?

Ini adalah tulisan opini saya tentang kenapa hoax begitu mudah menjerat banyak orang di Indonesia.

 

  • 1. Budaya Baca yang Rendah

Budaya Baca Indonesia

Fakta menarik datang dari data UNESCO.

Minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%.

Artinya apa?

Dari 1000 orang, 

cuma 1 yang rajin membaca.

 

Jadi, kalau kamu hobi membaca, berbahagialah karena masuk golongan 0,001%.

 

Karena tidak suka membaca hingga tuntas, tidak suka mencari tahu kebenaran dari sisi lain, makanya mudah disuapin hoax.

  • 2. Berfikir Judul Berita = Isi Berita

Kalau zaman dulu, sebelum internet mengambil alih banyak sisi kehidupan, penulis berita membuat judul yang sesuai dengan isi beritanya.

Saat dikelas, guru mengajar pelajaran Bahasa Indonesia. Kita pasti diajarkan kalau membuat judul harus sesuai dengan isi.

Tidak ada diajarkan membuat clickbait!

 

Di era sekarang, banyak situs berita online mulai bertaburan. Pembaca bisa menikmati berita tanpa membayar apapun.

Demikian juga si pembuat berita tidak mendapatkan uang langsung dari pembaca.

Bedakan dengan zaman dahulu, dimana kita harus membeli koran dahulu baru bisa membaca beritanya.

 

Karena itu, uang biaya operasional membuat berita darimana?

Ya dari iklan.

Supaya iklan menghasilkan? Harus banyak traffik.

Supaya traffiknya banyak?

Ya buatlah judul headline yang clickbait, mengundang klik.

 

Buatlah judul yang kontroversi, yang engagement nya berpotensi melambung tinggi.

Jangan heran kenapa banyak judul berita tidak nyambung dengan isinya.

 

Yang paling parah?

Membaca berita dari hasil screenshot judul berita.

Asli, kalau yang baca langsung percaya….. sudah darurat ini situasinya…

Screenshot ya bisa diedit, inspect element….

 

 

 

Selain itu masih ada lagi tentang propaganda.

Situs berita X selalu meliput kejelekan-kejelekan pihak A.

Situs berita Y selalu meliput kehebatan, prestasi Pihak A.

Belum lagi polarisasi di media sosial.

 

Apa solusinya?

Saat di sekolah, diajarkan apa yang benar-benar terjadi di lapangan.

Tidak teori saja.

Diajarkan bagaimana sebenarnya media-media itu bergerak.

Apa tujuannya, bagaimana cara mereka melakukannya.

 

Dijarkan membedakan tulisan yang memihak, dan yang netral. Mana fakta, mana opini, mana penggiringan opini.

Cara menyerap dan menyaring informasi yang baik, cara mencari tempat informasi yang kredibelitas (waktu itu).

Bisa saja kredibel di bulan Januari-November. Desember sudah memihak. Semua bisa berubah.

 

Kesimpulan

Demikianlah tulisan opini saya tentang kenapa orang di Indonesia suka termakan hoax.Semoga menambah insight, dan sama-sama ketemu solusi terbaik.

Share jika suka, dan tinggalkan komentar mu jika punya opini lain.

Terimakasih.
Akhir kata, Salam Pubiway 🙂

Gambar Gravatar
Pengguna aktif media sosial lebih dari 1 dekade. Blogger sejak 2012, dan sangat menyukai dunia teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *