Tips Mengindari Hoax

Tips Terhindar dari Hoax

Diperbaharui

Dunia sudah semakin serba digital, penyebaran informasi semakin mudah dan cuma hitungan detik. Berikut Tips Terhindar dari Berita Hoax…


Tips Terhindar dari Hoax – Sepertinya sulit menemukan manusia yang belum pernah terjebak hoax 100% dalam hidupnya, sehati-hati apapun pasti pernah kena, meskipun itu hal kecil atau sederhana.

Dikarenakan dunia ini semakin serba digital, apa-apa terhubung ke internet, maka penyebaran informasi semakin mudah. Kita juga kena tripel distrupsi, milenial, digital, dan cov-19.

Jika dulu kalau mau dapat informasi harus membaca koran, majalah, buku, menonton TVRI, dan sejenisnya, sekarang semuanya menjadi serba gratis, cepat, instan, dan mudah pula di re-share.

Dimana ada sisi positif yang bertambah banyak, pastilah juga sisi negatifnya juga meningkat. Salah satunya maraknya penyebaran hoax.

Apa itu HOAX?

Singkatnya Hoax = kebohongan alias ketidakbenaran.

Ada part yang benar, namun ada part yang tidak benarnya dalam sebuah informasi.

Dilansir dari merdeka.com jenis-jenis hoax antara lain :

  • Fake News : Berita yang berusaha menggantikan berita asli
  • Clickbait : Judul dan isinya berbeda
  • Confirmation bias : Menginterpretasi kejadian dari bukti yang ada, namun sudah bias.
  • Misinformation : Informasinya tidak tepat & akurat.
  • Satire
  • Post Truth
  • Propaganda

Tujuan penyebarannya juga bermacam-macam. Intinya demi suatu kepentingan.

 

Faktor Pendukung Hoax

Kalau seseorang tahu itu bohong, kenapa disebarkan?

Faktor-faktor berikut ini yang menjadi pendukung hoax merajalela khususnya di Indonesia.

 

#1. Budaya Rajin Malas Membaca

Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,0001%. Artinya dari 1000 orang Indonesia, yang rajin membaca hanya 1 orang!

Di satu sisi, banyak masyarakat yang memang tidak doyan melakukan “reading”, sehingga pada satu titik kesannya :

Judul berita adalah isi berita.

Padahal kita semua juga tahu, headline berita zaman dahulu tidak seperti zaman sekarang yang berebut atensi pembaca yang setengah membaca tadi.

 

Lihat Juga :  Baca Medsos atau Baca Buku?

 

#2 Tidak Tahu Hal Dasar

Berapa banyak manusia di Indonesia yang belum mengetahui “jebakan phising“?

Itu jebakan yang sudah jadul banget, tapi tetap saja ada orang masih mau memasukkan email/username dan passwordnya ke situs yang “mirip” dengan situs aslinya itu.

 

Berapa banyak kita mendapat forward di WA, klik ini untuk dapatkan kuota 30 GB…

Share 10 kali dan dapatkan hadiahnya… dan benarlah teman sendiri yang membantu penyebaran hoax tidak masuk akal itu…

 

Screenshot judul berita palsu juga sering sekali bertebaran. Padahal paling mudah tinggal ketik judul berita itu di situs berita yang sudah kredibel tadi….

 

Edukasi internet seharusnya sudah jadi makanan wajib anak sekolah, karena apapun ceritanya mereka pasti hidup sehari-harinya bersama internet yang luas ini.

 

#3. Tidak Suka Menguji Kebenaran

Kita juga tahu sebuah kalimat sederhana

kalau kebenaran tidak diuji, maka kebenaranlah yang akan menguji kita.

 

Ada sebuah informasi, karena info ini mendukung pemikiran kita, langsung tanpa berpikir dan menganalisa dibagikan ke sekelilingnya.

 

Polarisasi dari hasil algoritma media sosial juga tidak pernah diperhitungkan, dianggap remeh, dianggap tidak masalah.

 

Lihat Juga :  Dampak Negatif Media Sosial Hari Ini

 

Tips Tidak Termakan Hoax

Berikut ini tips yang bisa Anda terapkan dalam melawan hoax, atau setidak-tidaknya sebagai bentuk defence.

1. Hoax Tidak Punya Power Selama Tidak Disebarkan

Informasi hoax sesungguhnya tidak punya banyak power, selama kita tidak bereaksi negatif terhadapnya.

Misalnya,

kamu sedang berselancar di intenet, ketemu informasi hoax.

Selama kamu tidak membagikan ulang (menyebarkan) info tersebut, ya penyebarannya akan berhenti di sisi kamu.

Jika semua orang melakukan hal yang sama, maka penyebaran hoax akan langsung berhenti di beberapa orang saja.

 

 

Sikap yang paling mudah? Diamkan saja.

 

Jika ada waktu luang? Report/laporkan berita itu sebagai hoax ke pemilik flatform.

 

 

Meskipun demikian, kita juga wajib berhati-hati…

Kenapa?

Karena membaca hoax yang berulang-ulang (hati-hati ini sudah masuk ke propaganda), bisa membuat kita jadi percaya.

Seperti kata Adolft Hitler

“Buatlah kebohongan yang besar, buatlah sederhana, selalu ulangi kebohongan itu, dan akhirnya orang-orang akan percaya.”

Karena itulah hoax harus segera diberantas, diklarifikasi mana yang benarnya.

 

2. Cek Dahulu Baru Share

Kita pasti pernah mendengar kalimat :

Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Ada juga yang membuatnya :

Sharing-sharing dahulu, selling-selling kemudian.

Di bagian ini kita bisa pakai jadi :

Checking-checking dahulu, sharing-sharing kemudian.

 

Kita bertanggungjawab terhadap informasi yang kita sebarkan. Setuju ya?

Jadi kalau ada informasi yang sampai kepada Anda, cek dulu isinya.

 

Ibaratkan seorang pesuruh raja yang harus mencicipi makanannya, apakah beracun atau tidak. Kalau aman, baru diteruskan kepada sang raja.

 

Tapi kan, ada juga momen dimana informasi itu “terlihat penting”, jadi tekan tombol share hanya agar kita tidak lupa info tersebut?

Ya benar. Saya sendiri juga sering share sesuatu di facebook saya, untuk sebagai reminder untuk dicek nanti.

Namun, saya set privasinya hanya saya (private).

Jadi ketika saya mengecek ulang, dan ternyata tidak benar, yang kena dampaknya kan cuma saya doang, tidak ada orang lain yang ikut-ikutan kena dampak akibat postingan yang saya share.

 

 

Cara mengecek informasi?

a) Misalnya ada berita, Anda ragu kebenarannya, cek saja dulu di situs kominfo.

Link : https://www.kominfo.go.id/content/all/laporan_isu_hoaks

 

b) Praktekkan Dulu

Misalnya saya dapat informasi ada promo tas seharga Rp 16.000,-

Saya order dulu, ketika itu benaran, baru saya share ke grup teman-teman agar mereka juga berkesempatan mendapat tas seharga 16 ribu tadi.

 

3. Filter Informasi

Informasi sudah menjadi benda yang sangat mudah ditemukan di era digital ini.

Kalau dulu, yang punya banyak informasilah yang unggul.

Kalau sekarang, yang punya skill filter informasi lah yang unggul.

 

Dunia terlalu berisik, terlalu banyak informasi bersebaran di dunia ini, belum lagi hoax dan propaganda yang kerap jadi makanan sehari-hari kita.

Jadi kita harus belajar memfilter informasi.

Salah satunya adalah berlangganan informasi kelas premium.

 

Informasi kelas gratisan, ya kualitasnya juga gratisan.

Informasi premium, ya dapatnya harus membayar dulu untuk mendapatkannya, tapi kualitasnya ya memuaskan.

 

Rekomendasinya adalah membaca berita dari situs berita yang berbayar. Jadi sebaiknya kita berlangganan saja di situs berita, layaknya seperti zaman dulu berlangganan koran untuk dapat informasi yang baik.

Misalnya :

  • https://www.kompas.id
  • https://langganan.tempo.co

Kenapa harus bayar kalau ada yang gratisan?

Hei, kalau kamu sudah memahaminya sesuatu dibaliknya, kamu akan setuju kok untuk berlangganan berita yang premium saja.

 

Salah satu opini yang menarik untuk dibaca :

Berita gratis vs Berita Premium Berbayar (https://www.kompasiana.com/zakkyabdillah1683/6016a52a8ede4845f16b1572/berita-gratis-vs-berita-premium-berbayar?page=all)

 

Lihat Juga :  Copywriting : Ilmu Penting di Era Sosial Media

 

Kesimpulan

Demikianlah tips untuk terhindar dari hoax di tengah 3 distrupsi yang memakan kita zaman sekarang, distrupsi milenial, digital, dan pandemi.

Bagikan jika merasa informasi ini bermanfaat. Komen jika ada yang ingin ditanyakan.

Terimakasih.
Akhir kata, Salam Pubiway 🙂

Gambar Gravatar
Berbagi adalah sebuah kebahagian dalam kehidupan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *