Hati-hati dengan “Gratis”

Dulu, gratisan adalah favorit saya.

Lihat sesuatu menarik, muncul pertanyaan ada versi gratisnya gak?

….dan hari ini, terhadap label “gratis”, saya jadi berhati-hati.

Kenapa?

Mungkin karena bertambah umur, wawasan semakin melebar.

Ketika ada yang “gratis”, langsung muncul pertanyaan :

  • Kenapa di gratiskan? Apa alasannya? Apa motifnya?
  • Dari mana sumber dayanya sehingga bisa bikin gratis? Terlebih yang terus-menerus gratis?

 

Duduk sebagai konsumen tentu label gratis adalah favorit.

Tapi ketika duduk sebagai produsen, pertanyaanya :

Bagaimana cara menyediakannya hingga berharga Rp 0,- ?

 

Dunia sekarang ini, semua semakin serba digital. Bahkan dalam banyak aspek kehidupan.

Contoh yang gratis dan sering kita temui :

  • Media Sosial
  • Forum
  • Website di internet
  • Aplikasi
  • dan banyak lagi

 

Kita bahas satu persatu…

Akses Internet

Sekarang ini Anda membaca tulisan ini dengan akses internet.

Benar?

Beli paket internet ke operatornya?

Bayarkan?

Berapa per hari? Berapa per bulan? Berapa per tahun?

 

Connect via wifi? Bayar tagihan bulanan kan?

Connect wifi gratisan? Yakin gratis?

Numpang di warung kopi? Yakin itu tidak include biaya ngopinya?

 

Benar-benar gratis karena wifi layanan publik?

Yakin?

Layanan publik siapa yang biayai? dari pajak kan?

Yakin ada yang gratis?

 

Media Sosial

Anda mendaftar ketika membuat akun media sosial.

Baik itu facebook, instagram, twitter, tiktok, youtube, dan lainnya.

Gratis kan? Tidak ada biaya pendaftaran, biaya bulanan member?

Sekarang pertanyaannya :

Kalau kamu yang jadi pemilik media sosialnya, semua biaya operasional dibayar pakai apa?

Print uang? Bayar pakai daun?

Oke deh mungkin terlalu rumit.

Kita loncat saja ke contoh lebih sederhana.

 

Blog/Web di Internet

Ketika kamu sebagai konsumen, membaca artikel, melihat gambar, menonton video yang tersedia, apakah dikenakan biaya?

Mayoritas gratis kan? tidak ada biaya langganan bulanan?

 

Sekarang dibalik.

Kamu yang jadi pemilik blognya.

 

Biaya bulanan blog datang darimana?

Ga bayar hosting/server bulanan? apalagi yang traffic tinggi, wajib pakai server yang spesifikasinya tinggi juga.

Ga bayar domain atau alamatnya webnya tiap tahun?

Tidak membeli theme?

Tidak ada biaya membuat konten rutin, maintain konten?

Tidak ada langganan tools riset, backlink, tools Seo lainnya?

 

Pastilah dari web itu kamu putar kan?

Cara paling umum, ya iklan. Contohnya adsense.

…ditambah lagi dengan jualan, menerima postingan berbayar, affiliasi, dan banyak lagi.

 

 

Jadi tidak ada yang benar-benar gratis, terlebih terus menerus di dunia digital.

Bayar juga, tapi pakai cara lain.

Pembaca (konsumen) tidak bayar berupa uang, tapi atensinya untuk disuapi iklan.

 

Sekarang kita pindah ke isi konten-konten media sosial…

 

“Download gratis PDF ini”

Pernah lihat? Pernah ingin mendownload yang katanya dikasih “gratis” itu?

Yakin gratis?

Tidak dibayar dengan data email aktif/utama milik kamu?

Kalau kamu belajar dunia digital marketing, praktek diatas adalah upaya list building.

Kamu makan “umpan” lead magnet. Kamu siap untuk dijuali.

 

Sekarang, yakin ada yang benar-benar gratis?

 

Webinar/Kelas Gratis

Memang pada awalnya ketika webinar online mulai populer, seru untuk mengikutinya.

Tapi, lama kelamaan muncul pertanyaan,

apa motif dia membuat webinar gratisan? Apakah untuk diprospek produk di akhir?

..atau untuk masuk list building si penyelenggara?

 

 

Kualitas Gratisan vs Berbayar

Harus diakui, tidak semua hal mampu kita beli versi berbayarnya. Jika versi gratis mencukupi, ya pakai saja.

 

Tapi lama kelamaan, kalau ada yang membuat produk, misalnya “ebook” tapi gratisan, pertanyaan berikutnya :

Kualitasnya bagaimana?

 

Contoh lain, kita bedakan media online news gratisan, dengan media online berbayar.

Yang simpel saja, langganan di gramedia digital, kualitas kontennya bagaimana?

Jauh kan dengan media gratisan? Iklannya banyak menghabiskan kuota, judul click bait bukan main.

 

Kesimpulan

Memang tidak semua yang gratis itu negatif.

Ada kok orang/pihak yang sengaja untuk membuatnya tetap gratis. Biayanya ditanggung sendiri, atau dari resource lain.

Motifnya? Tidak semua buruk.

Ada juga orang yang ingin menerapkan hukum gift first. Memberi.

Ada yang ingin melakukan pengabdian ke banyak orang. Tidak money oriented.

Misalnya website besar wikipedia. Gratis, tidak ada iklan, lengkap lagi…

Biaya servernya? Biasanya mereka buka donasi, dan ada saja orang baik  yang mendonasi.

 

Jadi, selama kita bisa mengetahui motif memberi “gratis”nya, ya kita bisa memanfaatkannya dengan bijaksana.

Bintang berapa nih buat penjelasan diatas? 😍

Pubiway.com memang jauh dari sempurna.

Marilah kita sempurnakan bersama-sama 🙏 Masukan Anda buat artikel ini?

Tinggalkan komentar